Menjadi Pemimpin Itu Mudah
Oleh Jefrie Tien Yun, S.Si. Teol

Benar! Menjadi pemimpin itu mudah. Ada ribuan buku yang mengajarkan kepada kita tentang menjadi pemimpin. Ada ribuan pelatihan kepemimpinan yang tersedia dan bisa kita ikuti. Ada banyak kesempatan bagi kita untuk menjadi pemimpin. Bahkan, menurut teori kepemimpinan, setiap orang adalah pemimpin sejak ia dilahirkan. Minimal kita adalah pemimpin bagi diri sendiri.  

Yang sulit adalah menjadi pengikut. Hampir tidak ada buku yang mengajarkan pembacanya menjadi seorang pengikut. Hampir tidak ada pelatihan atau ceramah tentang menjadi pengikut. Kalaupun ada, kemungkinan besar pelatihan seperti itu tidak akan laku. Apakah Anda berminat membayar sejumlah uang yang cukup besar untuk mengikuti pelatihan menjadi seorang pengikut?

Banyak orang ingin menjadi pemimpin. Namun, siapa yang mau menjadi pengikut? Pemimpin adalah soal status dan peran di dalam kelompok atau komunitas, sedangkan pengikut hanya soal peran. Pemimpin diangkat dan dilantik, tetapi tidak pernah ada pengangkatan atau pelantikan seorang pengikut.

Kenyataannya, pemimpin tidak akan pernah ada tanpa pengikut. Pemimpin dan pengikut merupakan satu kesatuan dan saling membutuhkan. Bahkan, dalam diri satu orang yang disebut sebagai pemimpin, ia juga adalah seorang pengikut. 

Seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin yang baik jika ia tidak bisa menjadi pengikut yang baik. Menjadi pengikut itu lebih sulit daripada menjadi pemimpin. Seorang pengikut harus mampu menerima kekurangan dan kelemahan pemimpinnya. Seorang pengikut harus mau mendukung keputusan pemimpin sekalipun ia menyadari keputusan itu keliru. Seorang pengikut harus mau melakukan apa yang diperintahkan pemimpinnya sekalipun ia tidak memahaminya. Seorang pengikut juga boleh dan bisa memberikan saran kepada pemimpin.

Menjadi Kristen berarti menjadi pengikut. Pemimpinnya adalah Yesus Kristus dan kitalah pengikut-Nya. Kita melakukan dengan penuh ketaatan apa yang diajarkan dan diperintahkan Yesus Kristus. Bahkan seorang rohaniwan pun adalah pengikut Kristus. Jadi, orang Kristen mestinya juga belajar tentang menjadi pengikut. 

Alkitab mengajarkan kepada kita tidak hanya sebagai pemimpin tetapi terutama sebagai pengikut. Mungkin itu sebabnya sebagian orang Kristen malas membaca Alkitab. Alkitab memberikan banyak sekali contoh para pemimpin yang berhasil dan yang gagal. Namun, lebih banyak contoh para pengikut yang dicatat di dalam Alkitab. Ada tentang bangsa Israel yang selalu mengeluh kepada Musa. Bangsa Israel yang tidak mau taat kepada Tuhan dan tidak mau
melakukan perintah-Nya. Ada Yunus yang melarikan diri ketika diperintahkan memberitakan pertobatan kepada bangsa Niniwe. Ada pula murid-murid Yesus yang melarikan diri ketika Sang Guru ditangkap dan disalibkan. 

Rasanya, dalam konteks Indonesia saat ini, memiliki seorang pemimpin negara yang baik adalah hal penting. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki pengikut (dhi. rakyat) yang baik. Karena, siapa pun pemimpinnya, tanpa pengikut yang baik, kehidupan bernegara tidak akan berjalan lancar. Akan selalu ada protes, kritik, demonstrasi, rasa tidak puas, dan sebagainya terhadap apa yang telah dilakukan sang pemimpin. Tidak jarang, upaya-upaya kotor dilakukan demi mengganti pemimpin yang ada karena dirinya ingin menjadi pemimpin dan merasa lebih pantas menjadi pemimpin. Akibatnya, roda kehidupan negara tidak berjalan dengan lancar. 

Jadi, dalam setiap bidang kehidupan kita, baik di dalam diri, keluarga, gereja, masyarakat, maupun bangsa dan negara, mari kita mengembangkan bukan hanya sikap kepemimpinan, melainkan juga sikap kepengikutan, karena pengikut juga bagian dari kehidupan.