PERSEKUTUAN
 Oleh Pdt. Rasid Rachman 


 Persekutuan bukan hanya kata yang sangat akrab di telinga orang Kristen, tetapi juga kata yang sudah dikenal dalam kekristenan sejak awal. Persekutuan adalah kata sehari-hari kehidupan bergereja. Kata asal persekutuan adalah koinonia, bahasa Yunani. Ia bukan hanya sebuah kata, tetapi juga sebagai aktivitas kekristenan awal. Kata ini bahkan telah menjadi sebuah kegiatan kekristenan sejak sebelum terbentuknya peribadahan gereja menjelang akhir abad pertama sebagaimana dikenal saat ini. Bentuk persekutuan Kristen awal sekitar tahun 30 hingga 60-an adalah pertemuan dengan makan-makan atau perjamuan dan diskusi atau berbagi cerita.

Dalam perkembangan gereja, kata persekutuan ini kemudian menjadi terminologi gereja dan umat Kristen, baik resmi institusional maupun tak resmi sesehari. Memang, arti kata persekutuan dapat disejajarkan dengan persatuan, persaudaraan, perhimpunan, perserikatan, atau aktivitas bersama, namun istilah persekutuan lebih melekat dalam kehidupan kekristenan. Beberapa gereja membatasi kata persekutan pada nama lembaga gerejawi. Misalnya, ada Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) di perumahan-perumahan baru waktu itu di sekitaran Jakarta. POUK lahir sekitar tahun 1970-an, namun eksistensinya masih berlangsung dan berkembang di banyak wilayah di Indonesia hingga ini. 

Dalam wadah yang lebih luas, ada Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), yakni wadah ekumenis bagi Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Waktu dibentuk pada 25 Mei 1950, institusi ini bernama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI). Namun pada Sidang Raya DGI di Ambon tahun 1984, kata Dewan tersebut diganti dengan Persekutuan. Sebagai dukungan dan semangat dalam gerak keesaan gereja di Indonesia, GKI menjadi anggota PGI sejak awal berdirinya tahun 1950. 

Keanggotaan GKI di DGI awal masih menggunakan nama GKI Jabar, GKI Jateng, dan GKI Jatim. Keanggotaannya masing-masing tertulis dalam tiga nomor anggota. Penyatuan di tubuh tiga sinode GKI tersebut terjadi pada Agustus 1988. Maka kemudian, ketiga sinode tersebut membarui keanggotaannya di PGI – bukan tiga lagi, melainkan satu – pada Agustus 1994 dengan nama Sinode Am GKI Jakarta.

Ada pula Persekutuan Injili Indonesia (PII), yakni wadah musyawarah dan kerja sama Gerejagereja Injili yang didirikan pada tahun 1971. Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), yakni wadah musyawarah Gereja-gereja Baptis di Indonesia. Di Jerman, ada Persekutuan Kristen Indonesia – Kebaktian Kristen Indonesia (Perki-KKI), yakni lembaga yang menyelenggarakan ibadah bagi masyarakat Kristen Indonesia di Jerman, Belanda, dan umumnya Eropa sejak 1967.

Beberapa gereja memakai kata persekutuan untuk kegiatan kerohanian di luar ibadah Minggu dan hari-hari raya di gereja. Misalnya, persekutuan wilayah, persekutuan rumah tangga, persekutuan pemuda, dsb. Terminologi ini berarti aktivitas kerohanian yang sedikit di luar
terminologi ibadah atau liturgi. Jika perayaan liturgi berlangsung dalam rangka memperingati dan merayakan peristiwa Kristus, maka persekutuan demi kebersamaan dan kesepakatan bersama.

Persekutuan Kristen bukan hanya persekutuan di dalam satu tempat dan zaman. Persekutuan Kristen dalam tradisi gereja dipahami sebagai persekutuan orang kudus, yakni persekutuan umat masa kini dan masa-masa lalu. Oleh karena itu, pernyataan Pengakuan Iman Rasuli: “Aku percaya kepada gereja yang kudus, rasuli, dan am, persekutuan orang kudus,“ menggambarkan bahwa persekutuan Kristen menyangkut yang sudah meninggal dan yang masih hidup. Kita pada masa kini adalah bagian dari umat Allah dan gereja masa-masa lalu. Seperti rantai, kita dan gereja masa kini adalah mata rantai dalam persekutuan Kristen dua ribu tahun.

Review Nikon D850

Nikon D850

Nikon announced its newest full frame DSLR, the D850 type. This camera is equipped with high specifications, one of which is a back-side illuminated type CMOS sensor that has a 45.7 megapixel sharpness. This type of sensor is believed to make the camera handle low light situations well, even though the megapixel size is very high. As is well known, usually a high megapixel count becomes an indicator of the low quality of shooting in low light conditions. Nikon D850 is also equipped with the top image processing brain, which is Expeed 5. This Japanese company intentionally releases the low pass filter, which is commonly used to reduce the moire effect. Without this filter, the resulting photo should be very detailed. The ability of the other Nikon D850 is a matter of video recording. This camera is capable of recording 4K UHD video in 30 or 24 frames per second, and 1080p video with a maximum frame rate of 120 frames per second. There is also timelapse 8K video recording capability. About the supporting features of shooting, the Nikon D850 is equipped with 153 autofocus points (99 cross types), as it is used in the D5 type. Nikon D850 is also capable of shooting at 7 frames per second at a full resolution of 45.7 megapixels. The new camera will experience a buffer after the user captures 51 14-bit RAW photos, or 170 12-bit photos. The Nikon D850 can be set to shoot without sound, has one XQD memory slot and one SD, a battery that can support 1,800 photo shots or 70 minutes of video, and has a 3.2 inch LCD screen that can be bent. For matters of connectivity, Nikon supplies this camera with WiFi, Bluetooth, and Snapbridge. As reported by KompasTekno from The Verge, Saturday (08/26/2017), Nikon D850 is currently not yet sold to the public. The Japanese camera company is only planning to start selling it to the public in September 2017 and is priced at a high price. Nikon D850 will be sold at 3,299 US dollars, equivalent to Rp 44 million. The price is only for the purchase of the Nikon D850 body, not including the lens.
Nikon mengumumkan DSLR full frame terbarunya, yakni tipe D850. Kamera ini dibekali dengan spesifikasi tinggi, salah satunya adalah sensor CMOS tipe back-side illuminated yang memiliki ketajaman 45,7 megapiksel. Tipe sensor ini diyakini bakal membuat kamera bisa menangani situasi low light dengan baik, meski ukuran megapikselnya sangat tinggi. Sebagaimana diketahui, biasanya tingginya hitungan megapiksel menjadi indikator rendahnya kualitas pengambilan gambar dalam kondisi low light. Nikon D850 juga dibekali otak pemrosesan gambar teratasnya, yakni Expeed 5. Perusahaan asal Jepang ini sengaja melepas low pass filter, yang biasa digunakan untuk mengurangi efek moire. Tanpa adanya filter ini, maka foto yang dihasilkan mestinya akan sangat detil. Kemampuan Nikon D850 lainnya adalah soal perekaman video. Kamera ini mampu merekam video 4K UHD dalam 30 atau 24 frame per detik, dan video 1080p dengan frame rate maksimal 120 frame per detik. Ada juga kemampuan merekam video timelapse 8K. Soal fitur pendukung pemotretan, Nikon D850 dibekali dengan 153 titik autofocus (99 cross type), sebagaimana yang dipakainya di tipe D5. Nikon D850 juga mampu menjepret dengan kecepatan 7 frame per detik pada resolusi penuh 45,7 megapiksel. Kamera baru akan mengalami buffer setelah pengguna menjepret 51 foto RAW 14-bit, atau 170 foto 12-bit. Nikon D850 bisa diatur agar memotret tanpa bunyi (silent), memiliki satu slot memori XQD dan satu SD, baterai yang sanggup menopang 1.800 jepretan foto atau 70 menit video, serta memiliki sebuah layar LCD 3.2 inci yang bisa ditekuk. Untuk urusan konektivitas, Nikon membekali kamera ini dengan WiFi, Bluetooth, serta Snapbridge. Sebagaimana dilansir KompasTekno dari The Verge, Sabtu (26/8/2017), saat ini Nikon D850 masih belum dijual untuk umum. Perusahaan kamera Jepang tersebut baru berencana untuk mulai menjualnya ke publik pada September 2017 mendatang dan dibanderol dengan harga tinggi. Nikon D850 akan dijual dengan harga 3.299 dollar AS atau setara Rp 44 juta. Harga itu hanya untuk pembelian body Nikon D850, belum termasuk lensa.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Nikon D850 Resmi Meluncur, Full Frame Resolusi 45 Megapiksel", https://tekno.kompas.com/read/2017/08/26/07390007/nikon-d850-resmi-meluncur-full-frame-resolusi-45-megapiksel.
Penulis : Yoga Hastyadi Widiartanto